Dapat Dukungan Kementan, Luas Perkebunan Kakao di Kabupaten Berau Bertambah Ratusan Hektare

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 17:20 WIB
DIPERLUAS: Luas kebun kakao di Berau kini mencapai sekitar 1.050 hektare. Kecamatan Sambaliung masih menjadi wilayah dengan areal kakao terluas. (BERAU POST)
DIPERLUAS: Luas kebun kakao di Berau kini mencapai sekitar 1.050 hektare. Kecamatan Sambaliung masih menjadi wilayah dengan areal kakao terluas. (BERAU POST)

BERAU POST – Luas perkebunan kakao di Kabupaten Berau, direncanakan terus bertambah tahun ini. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mendapat dukungan perluasan lahan dari Kementerian Pertanian sebanyak 200 hektare untuk pengembangan tanaman kakao.

Saat ini luas kebun kakao di Berau mencapai sekitar 1.050 hektare. Sebelumnya, luas tanaman kakao tercatat sekitar 1.037 hektare dengan produksi rata-rata mencapai 800 ton per tahun.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbun Berau, Hendratno, mengatakan mengatakan penambahan lahan kakao menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mengembangkan komoditas tersebut. Tahun ini, Berau mendapat alokasi perluasan perkebunan dari pemerintah pusat sebanyak 400 hektare.

Dari jumlah itu, 200 hektare diarahkan untuk kakao, sedangkan 200 hektare lainnya diperuntukkan bagi komoditas kelapa.

Sebelumnya, Pemkab Berau menargetkan pembukaan lahan baru untuk pengembangan perkebunan sekitar 100 hektare setiap tahun.

Namun, adanya dukungan dari pemerintah pusat membuat penambahan areal pada 2026 lebih besar dari target rutin tersebut.

Adapun perluasan kebun kakao juga dilihat dari kondisi lahan dan kesiapan petani juga, di samping mengembangkan tanaman kakao itu sendiri. Penambahan lahan tersebut diprioritaskan bagi petani yang serius mengembangkan kakao.

“Lahan yang digunakan juga harus memenuhi syarat, salah satunya tidak berada di kawasan yang rawan banjir,” ungkapnya.

Selain penambahan areal, pihaknya akan terus melakukan pendampingan dan memberikan bantuan kepada petani. Bantuan diberikan mulai dari alat fermentasi, pupuk hingga pelatihan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) petani.

Pendampingan tersebut diberikan agar pengembangan kakao tidak berhenti disitu. Pengelolaan kebun hingga penanganan hasil panen juga menjadi perhatian serius dalam pengembangan komoditas tersebut.

Saat ini, Kecamatan Sambaliung masih menjadi wilayah dengan areal kakao terbesar di Berau. Luas kebun kakao di kecamatan tersebut mencapai sekitar 479 hektare.

Areal kakao lainnya tersebar di sejumlah wilayah. Di antaranya, Kelay, Segah, Long Lanuk, Kampung Merasa hingga Kampung Birang.

Meski luas perkebunan kakao masih lebih kecil dibandingkan sejumlah komoditas perkebunan lainnya, Berau memiliki peluang dari sisi kualitas biji yang dihasilkan. Biji kakao fermentasi asal Berau disebut memiliki karakter rasa yang menarik perhatian pasar premium.

Peluang tersebut salah satunya terlihat dari kerja sama dengan Valrhona, perusahaan cokelat premium asal Prancis. 

“Perusahaan tersebut telah berkomitmen menyerap biji kakao dari Berau untuk kebutuhan ekspor ke pasar Eropa,” terangnya.

Kerja sama itu menjadi salah satu perkembangan penting bagi petani kakao Berau. Pasalnya, peningkatan produksi juga perlu diikuti dengan kepastian pasar agar hasil kakao petani bisa terserap.

Dengan tambahan lahan pada 2026, pemerintah daerah kini memiliki areal yang lebih luas untuk dikembangkan. Namun, perluasan tersebut tetap diikuti dengan pendampingan kepada petani dan perhatian terhadap kualitas hasil produksi.

Pihaknya berharap pengembangan kakao dapat terus berjalan dengan melibatkan petani yang memiliki kesiapan mengelola kebun.

Di sisi lain, kualitas biji kakao tetap dijaga agar peluang pasar yang sudah terbuka dapat dipertahankan. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
perkebunan kakao Dinas Perkebunan Berau