BERAU POST – Mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program KKN UGM Bidukbiduk Berlabuh 2026 memberikan pembekalan edukatif kepada siswa kelas 5 SDN 001 Teluk Sulaiman, Sabtu (25/7) lalu.
Kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengetahuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Tiga materi utama yang diberikan meliputi pengenalan wirausaha berbasis pemanfaatan limbah batok kelapa, penggunaan teknologi dan media sosial secara bijak, serta edukasi mengenai bahaya merokok.
Ketua KKN UGM Bidukbiduk Berlabuh 2026, Zulfa Choirunnisa Fathamubina, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa menghadirkan edukasi yang tidak hanya bersifat teoritis.
"Materi kami dekatkan dengan kehidupan sehari-hari siswa,” ujarnya.
Pada sesi pertama, mahasiswa mengenalkan konsep dasar kewirausahaan melalui pemanfaatan limbah batok kelapa. Materi yang dibawakan Ruth Mutiara Sharon Siringoringo tersebut mengajak siswa melihat potensi ekonomi dari barang yang selama ini dianggap sebagai limbah.
Setelah mendapatkan materi, siswa kemudian diajak mempraktikkan kreativitas dengan mewarnai gantungan kunci berbentuk produk olahan batok kelapa.
Aktivitas tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk memahami bahwa limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna sekaligus memiliki nilai jual.
“Limbah juga bisa menjadi produk yang bernilai,” kata Zulfa.
Kegiatan berikutnya berfokus pada literasi digital. Zhazha Nurani memberikan sosialisasi mengenai penggunaan teknologi dan media sosial secara bijak.
Penyampaian materi dikemas melalui permainan digital secara berkelompok sehingga siswa dapat berinteraksi sekaligus belajar dalam suasana yang menyenangkan.
Melalui sesi tersebut, siswa diajak memahami pentingnya bertanggung jawab saat menggunakan teknologi, termasuk mempertimbangkan perilaku dan dampak aktivitas yang dilakukan di ruang digital.
Materi kemudian dilanjutkan dengan edukasi mengenai bahaya merokok yang disampaikan Rachel Natasha Tobing. Sosialisasi dilakukan melalui presentasi, permainan tanya jawab, hingga demonstrasi sederhana menggunakan botol berisi air.
Demonstrasi tersebut digunakan untuk memberikan gambaran secara visual mengenai dampak rokok sehingga materi lebih mudah dipahami siswa.
Menurut Zulfa, ketiga materi tersebut memiliki tujuan yang saling melengkapi. Edukasi kewirausahaan diarahkan untuk menumbuhkan kreativitas dan kemandirian, sementara literasi digital menjadi bekal agar siswa lebih bijak memanfaatkan teknologi.
Di sisi lain, edukasi bahaya merokok diharapkan menanamkan kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak usia dini.
“Harapannya, edukasi ini menjadi kebiasaan positif,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan melalui praktik, permainan, diskusi, dan demonstrasi membuat siswa tidak sekadar menerima materi, tetapi turut terlibat selama proses pembelajaran.
Mahasiswa KKN-PPM UGM juga berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Kreativitas memanfaatkan barang bekas, penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, serta sikap menjauhi rokok diharapkan dapat terus terbawa setelah kegiatan berakhir. (sen/hmd)
Editor : Nurismi