Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Guna Cetak Generasi Berkualitas, Dinkes Berau Ingatkan Pentingnya Gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Nurismi • Senin, 13 Juli 2026 | 18:00 WIB
ILUSTRASI: Dinkes Berau mengajak masyarakat bersama-sama mencegah stunting demi mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan berkualitas. (BERAU POST)
ILUSTRASI: Dinkes Berau mengajak masyarakat bersama-sama mencegah stunting demi mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan berkualitas. (BERAU POST)

BERAU POST - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Lamlay Sarie kembali mengingatkan pentingnya upaya bersama dalam mencegah stunting sebagai langkah mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Stunting hingga saat ini masih menjadi salah satu tantangan nasional dalam pembangunan sumber daya manusia. Penanganannya tidak dapat dilakukan hanya melalui sektor kesehatan, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak melalui upaya lintas sektor.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Berau tercatat sebesar 23,4 persen. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya dan masih berada dalam kategori tinggi.

Dijelaskan, penurunan angka stunting tidak hanya bergantung pada intervensi spesifik di bidang kesehatan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh intervensi sensitif yang melibatkan berbagai sektor pendukung.

“Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi,” menjadi perhatian dalam upaya pencegahan stunting.

Periode 1.000 HPK dinilai sebagai masa yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Pemenuhan kebutuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun menjadi salah satu kunci dalam mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan.

Sejumlah faktor dapat menjadi penyebab munculnya stunting. Di antaranya faktor ekonomi, seperti keterbatasan penghasilan yang dapat berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi dan akses terhadap layanan kesehatan.

Selain itu, faktor perilaku ibu atau keluarga, kesehatan ibu dan anak, pola makan, serta kondisi lingkungan juga turut berpengaruh.

Dampak stunting tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat berpengaruh dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, stunting dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik serta hambatan perkembangan kognitif anak.

Sementara dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kronis dan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia.

Untuk mencegah stunting, Dinkes Berau mengingatkan masyarakat menerapkan langkah-langkah sederhana melalui gerakan, pertama aktif mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD).

Kedua, ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan kehamilan. Ketiga, mencukupi konsumsi protein hewani. Keempat, rutin datang ke Posyandu setiap bulan. Kelima, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan.

Ia menegaskan, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan kerja sama seluruh pihak. Intervensi sensitif harus melibatkan pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah (OPD) teknis, hingga Tim Penggerak PKK (TP PKK) di tingkat kabupaten, kecamatan, dan kampung.

“Keberhasilan intervensi sensitif sangat membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, mulai dari pemerintah daerah, OPD teknis, hingga TP PKK di tingkat kabupaten, kecamatan, dan kampung,” ungkapnya. 

Upaya pencegahan stunting diharapkan dapat berjalan lebih optimal sehingga mampu mendukung terwujudnya generasi Berau yang sehat, cerdas, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik. (adv/aja/hmd)

Editor : Nurismi
#stunting #Dinkes Berau #gizi