BERAU POST – Dinas Pendidikan Berau terus berupaya menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui program jemput bola yang menyasar langsung masyarakat.
Salah satu dengan kegiatan yang dilaksanakan di Kampung Batu-Batu, Gunung Tabur. Disdik Berau membuka layanan pendaftaran program pendidikan kesetaraan bagi warga yang belum menyelesaikan pendidikan formal.
Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah mengayakan, jemput bola tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Dari pelaksanaan jemput bola itu, sebanyak tujuh warga langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti Program Pendidikan Kesetaraan.
Mulai dari Paket A yang setara sekolah dasar, Paket B setara sekolah menengah pertama, hingga Paket C yang setara sekolah menengah atas.
Sementara itu, sejumlah calon peserta lainnya masih menjalani proses pendataan sebelum mengikuti program serupa.
Program jemput bola ini menjadi salah satu langkah Disdik Berau dalam memperluas akses pendidikan, khususnya bagi masyarakat yang sebelumnya tidak dapat menyelesaikan pendidikan karena berbagai alasan.
“Dengan mendatangi langsung wilayah kampung, proses pendataan hingga pendaftaran diharapkan menjadi lebih mudah dijangkau oleh masyarakat,” ungkapnya, Senin (6/7).
Dijelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memberikan kesempatan belajar kepada seluruh warga, termasuk mereka yang sempat putus sekolah.
Melalui program pendidikan jesetaraan, masyarakat tetap memiliki peluang memperoleh ijazah yang setara dengan pendidikan formal sesuai jenjang yang diikuti.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan jemput bola di Kampung Batu-Batu juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kampung Batu-Batu bersama Unit Pelaksana Teknis Sanggar Kegiatan Belajar (UPT SPNF SKB) Berau.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar proses pendataan, sosialisasi hingga pendaftaran peserta dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Antusiasme warga terlihat cukup tinggi selama kegiatan berlangsung. Selain tujuh peserta yang telah resmi mendaftarkan diri,” katanya.
Diakuinya, kebutuhan terhadap layanan pendidikan nonformal masih cukup besar di tingkat kampung. Dirinya berharap kegiatan jemput bola seperti ini dapat terus dilakukan di berbagai kampung di Kabupaten Berau sehingga semakin banyak.
Semakin luas akses pendidikan yang dibuka, semakin besar pula peluang masyarakat untuk meningkatkan kualitas diri dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Harapan kami, semakin banyak masyarakat yang kembali melanjutkan pendidikan melalui pendidikan kesetaraan sehingga memiliki kesempatan yang lebih baik untuk meraih cita-cita dan meningkatkan kualitas hidup," ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina mendesak Dinas Pendidikan (Disdik) Berau mempercepat realisasi Program Nol ATS.
Ia menegaskan target bebas anak putus sekolah pada 2025 tak akan tercapai tanpa dukungan data akurat, anggaran yang cukup, serta kolaborasi lintas sektor.
Sebagai informasi, Dinas Pendidikan menargetkan tidak ada lagi anak putus sekolah pada akhir 2025.
Program ini mencakup identifikasi anak usia sekolah yang berpindah domisili atau terkendala akses, lalu penyaluran mereka ke jalur formal maupun non formal.
“Resolusi tak ada anak putus sekolah harus diterjemahkan dalam aksi nyata,” kata Elita.
Salah satu tantangan utama dikatakannya, perihal data anak yang drop out akibat pindah alamat atau sulit menjangkau bangku sekolah.
Elita menyoroti banyak keluarga di wilayah pesisir dan pedalaman yang belum tercatat dengan baik. “Data terpadu mutlak diperlukan agar tidak ada anak yang terlewat,” ujarnya.
Ia mendorong pembentukan tim lintas OPD yang melibatkan sejumlah instansi terkait agar setiap anak di Berau benar‑benar mendapatkan hak pendidikan.
“Kami tidak ingin sekadar mendengar laporan, tetapi memastikan tidak ada anak Berau yang terpinggirkan dalam akses pendidikan,” tutupnya. (aja/hmd)
Editor : Nurismi