Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Arti Burakat Banua: Makna Mendalam di Balik Buku Sejarah Karya Penulis Asli Berau

Nurismi • Rabu, 1 Juli 2026 | 14:05 WIB
BUDAYA BERAU: Kegiatan bedah buku Burakat Banua di Perpustakaan Sanggam Barintak sebagai upaya pendokumentasian pengetahuan dan budaya leluhur Berau agar tidak hilang ditelan zaman, Selasa (30/6). (IZZA/BP)
BUDAYA BERAU: Kegiatan bedah buku Burakat Banua di Perpustakaan Sanggam Barintak sebagai upaya pendokumentasian pengetahuan dan budaya leluhur Berau agar tidak hilang ditelan zaman, Selasa (30/6). (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Berau menggelar bedah buku Burakat Banua karya penulis asli Berau, Putri Aida Syafrani, yang digelar di Perpustakaan Sanggam Barintak, Selasa (30/6).

Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah, menyampaikan, sebagai upaya melestarikan budaya lokal dan menjadi bagian dari komitmen Pemkab Berau dalam mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai budaya daerah kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Dikatakan, penerbitan buku bertema budaya lokal merupakan langkah konkret untuk menjaga identitas daerah agar tidak tergerus perkembangan zaman. Menurutnya, buku menjadi media penting dalam mendokumentasikan berbagai kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Berau.

“Melalui bedah buku ini kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih mengenal akar budaya daerah agar menjadi masyarakat yang berpengetahuan sekaligus beradab,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Burakat Banua bukan sekadar karya tulis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pendokumentasian, pelestarian, serta pemaknaan kembali terhadap sejarah, adat istiadat, dan nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Berau.

“Bukakat artinya asal atau berasal, Banua artinya salah satu suku di Berau. Secara tidak langsung Burakat Banua berarti asal Berau,” sebutnya.

Karena itu, Dispusip berharap buku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan referensi bagi pemustaka, peneliti, pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum yang ingin menggali lebih dalam tentang budaya dan sejarah Kabupaten Berau.

“Harapan kami, isi buku ini dapat menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin mempelajari budaya lokal Berau,” katanya.

Diakuinya, Pemkab Berau saat ini tengah menghadapi efisiensi anggaran yang berdampak terhadap pengembangan literasi, khususnya penerbitan buku karya penulis lokal. 

Namun, hal itu tidak mengurangi komitmen Dispusip Berau untuk terus menerbitkan buku-buku karya penulis daerah sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.

Ia menyebut masih banyak penulis lokal yang telah mengajukan naskah agar dapat diterbitkan melalui Dispusip Berau. Tingginya minat tersebut menjadi bukti bahwa semangat literasi masyarakat terus tumbuh dan perlu mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

“Kami akan terus berupaya mengalokasikan pembiayaannya melalui APBD Perubahan 2026 maupun APBD murni 2027 nanti,” jelasnya.

Menurutnya, keberadaan penulis lokal memiliki peran besar dalam memperkaya literatur tentang Berau. Karena itu, Dispusip memberikan apresiasi kepada Putri Aida Syafrani yang dinilai mampu menghadirkan karya yang mengangkat identitas budaya daerah.

“Beliau menjadi salah satu contoh teladan literasi di Berau yang patut diapresiasi dan diteladani,” ungkapnya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda yang terdorong menulis dan mendokumentasikan budaya daerah melalui berbagai karya. Dengan begitu, nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur dapat terus terjaga dan dikenal lintas generasi.

“Mari bersama-sama menjaga, melestarikan, dan memanfaatkan budaya sebagai kekuatan untuk memajukan daerah serta memperkenalkan kekayaan budaya lokal Berau kepada masyarakat yang lebih luas,” pungkasnya.

Sementara itu, Penulis buku Burakat Banua, Putri Aida Syafrani, mengatakan penulisan buku tersebut berangkat dari keinginannya mendokumentasikan berbagai pengetahuan yang dimiliki para leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.

Masyarakat selama ini lebih banyak mewariskan pengetahuan melalui tradisi lisan sehingga banyak ilmu yang belum terdokumentasi secara tertulis.

Ia menilai para leluhur memiliki pengetahuan yang sangat luas, mulai dari kepercayaan, teknologi, hingga pengobatan tradisional. Namun, sebagian besar pengetahuan itu hanya dikuasai oleh individu tertentu sehingga berisiko hilang ketika pemiliknya meninggal dunia atau sudah tidak lagi mampu menyampaikannya.

"Karena itu saya berusaha menuliskan dan mendokumentasikan. Salah satu cara mengabadikan sebuah ilmu adalah dengan menulis," ujarnya.

Dirinya hadir bukan untuk menggurui peserta bedah buku. Ia justru mengajak seluruh peserta saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, karena setiap orang memiliki kelebihan dan pengetahuan yang berbeda.

Sebagai praktisi, Putri mengaku masih terus belajar memahami keterkaitan antara budaya dan ilmu pengetahuan. Menurutnya, akar dari ilmu pengetahuan sesungguhnya lahir dari budaya yang kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia berharap ke depan semakin banyak upaya pendokumentasian kekayaan pengetahuan lokal Berau melalui penerbitan buku-buku yang lebih spesifik, seperti yang mengangkat kekayaan alam, masyarakat, hingga ilmu pengetahuan lokal.

"Mungkin ke depan kita bisa membuat buku yang fokus pada alam Berau, manusia Berau, dan ilmu pengetahuannya. Sebab suatu bangsa tidak akan maju apabila terputus koneksinya dengan para leluhurnya," tutupnya. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
#Dispusip Berau #bedah buku