BERAU POST - Insiden panas di Elite Pro Academy (EPA) Super League 2025/2026 benar-benar menyentak perhatian publik sepak bola nasional.
Legenda Persebaya Surabaya, Jacksen F. Tiago, angkat suara dengan pesan menyentuh yang menohok sisi kemanusiaan olahraga ini.
Laga antara Bhayangkara Presisi Lampung FC U20 melawan Dewa United Banten FC U20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026), menjadi titik awal polemik.
Aksi berbahaya yang dilakukan pemain Timnas Indonesia U-20, Fadly Alberto, memicu kecaman sekaligus keprihatinan mendalam.
Di tengah derasnya tuntutan hukuman berat, Jacksen memilih jalan berbeda dengan mengajak semua pihak merenung.
Ia membuka pesannya dengan ajakan sederhana namun kuat, untuk melihat kembali apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
“Saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan kejadian dalam pertandingan EPA 2026,” ucapnya. Kalimat itu menjadi pintu masuk refleksi yang lebih luas tentang arah sepak bola Indonesia.
Pengalaman Jacksen saat berada di Spanyol menjadi pembanding yang kontras. Ia menyinggung bagaimana sepak bola di sana menjadi hiburan yang menyatukan, penuh rasa hormat dan sportivitas.
“Kita melihat langsung bagaimana sepak bola menjadi bahasa universal yang menyatukan banyak orang,” katanya. Bahkan, atmosfer di markas FC Barcelona meninggalkan kesan mendalam baginya.
Namun sepulang ke tanah air, ia justru merasakan kegelisahan. Jacksen mempertanyakan arah permainan yang mulai menjauh dari nilai-nilai dasar olahraga.
“Seolah kita memainkan olahraga yang berbeda, lalu muncul pertanyaan: apakah untuk menjadi yang terbaik kita harus menghalalkan segala cara?” ujarnya.
Pernyataan itu terasa menampar, terutama di tengah insiden yang baru saja terjadi.
Meski begitu, Jacksen tetap mengapresiasi perkembangan kompetisi usia muda yang dinilai mulai membaik. Ia menyebut ada kemajuan dari sisi organisasi, kurikulum, hingga konsep kepelatihan yang patut diapresiasi.
Namun, ia menegaskan masih ada pekerjaan rumah yang jauh lebih penting. Fokus pembinaan, menurutnya, harus bergeser ke investasi pada manusia, bukan sekadar performa.
“Sepak bola dimainkan oleh manusia, jadi kita tidak hanya membentuk pemain, tapi juga membentuk pribadi,” tegasnya.
Ia menyoroti pentingnya aspek psikologis, karakter, hingga kemampuan komunikasi bagi pemain muda. Jacksen juga mengusulkan adanya gerakan lebih serius dalam pengembangan psikologi olahraga.
Menurutnya, kerja sama dengan tenaga ahli menjadi langkah penting agar pembinaan berjalan lebih terarah.
Ia juga menyinggung tantangan era digital yang semakin kompleks. Tanpa pendampingan yang tepat, generasi muda berpotensi kehilangan arah meski memiliki bakat besar.
“Banyak pemain muda bisa hilang bukan karena kurang bakat, tapi karena kurang karakter,” ungkapnya. Kalimat itu mempertegas masalah utama bukan sekadar teknis di lapangan.
Soal insiden yang melibatkan Fadly Alberto, Jacksen tidak menutup mata. Ia mengakui tindakan tersebut sudah keluar dari batas kewajaran dalam olahraga.
Namun, pendekatan yang ia tawarkan bukan sekadar hukuman. Sebagai pembina dan seorang ayah, ia melihat ada beban moral besar yang sudah ditanggung pemain dan keluarganya.
“Saya tidak ingin fokus pada seberapa berat hukuman, karena hukuman moral yang mereka hadapi sudah sangat berat,” katanya. Perspektif ini memberi sudut pandang berbeda di tengah tuntutan sanksi keras.
Ia justru mengajak semua pihak untuk membangun sistem yang lebih baik. Menurutnya, tujuan sepak bola tidak berhenti pada trofi semata.
“Tujuan kita bukan hanya meraih piala, tetapi membentuk manusia,” ucapnya. Ia mengingatkan, piala bisa berkarat, tetapi karakter akan bertahan seumur hidup.
Jacksen juga berharap insiden ini tidak memicu perpecahan di antara pelaku sepak bola. Ia ingin momentum ini justru menjadi titik balik untuk memperkuat sistem pembinaan nasional.
Ia menegaskan, kejadian ini bukan hanya tanggung jawab dua tim yang bertanding. Lebih dari itu, ini adalah cerminan dari keseluruhan sistem yang ada.
Dalam konteks Persebaya Surabaya, pesan ini terasa relevan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi Green Force. Klub yang dikenal dengan basis suporter besar itu selalu menempatkan sportivitas sebagai bagian dari identitas.
Insiden ini pun membuka ruang diskusi tentang pentingnya pendekatan yang lebih humanis dalam pembinaan pemain muda. Tekanan kompetisi tanpa keseimbangan karakter bisa memicu tindakan yang merugikan.
Jacksen menutup pesannya dengan nada penuh kepedulian. Meski mengaku sebagai orang asing, ia merasa menjadi bagian dari ekosistem sepak bola Indonesia.
Kepedulian itu, menurutnya, lahir dari keinginan tulus untuk melihat sepak bola nasional berkembang lebih baik. Sebuah pesan sederhana, tetapi sarat makna di tengah riuhnya polemik yang terjadi.
Editor : Nurismi