BERAU POST - Kekalahan tipis Timnas Indonesia U-17 dari Malaysia di laga kedua Grup A Piala AFF U-17 2026 menyisakan tanda tanya besar.
Bukan sekadar skor 0-1, keputusan pemilihan pemain juga ikut disorot publik yang penasaran dengan pertimbangan pelatih.
Salah satu momen yang jadi perhatian adalah masuknya Fardan Ary Setyawan di babak kedua dalam laga krusial di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik.
Keputusan itu memicu diskusi, terutama karena dilakukan di tengah tekanan pertandingan yang tinggi.
Pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto, akhirnya angkat bicara untuk menjelaskan dasar dari setiap keputusan yang ia ambil.
Ia menegaskan semua pilihan pemain tidak dibuat secara instan, melainkan melalui proses panjang dan terukur.
"Ya, terima kasih. Jadi, barangkali kemarin ketika saya baca, saya dan pemain ini kan sudah tergabung selama kurang lebih tiga-tiga jenis ini ya. Dan saya coba untuk memanggil pemain lagi beberapa pemain hasil dari pantauan tim scouting,” ujar Kurniawan, Kamis (16/4/2026).
Menurut Kurniawan, proses pemilihan pemain melibatkan pemantauan intensif dari tim scouting yang bekerja mengamati potensi pemain di berbagai kompetisi. Dari situ, nama-nama terbaik kemudian dipanggil untuk mengikuti seleksi lanjutan.
Ia memastikan semua pemain yang masuk skuad merupakan hasil seleksi objektif yang dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya kemampuan teknis di lapangan, berbagai aspek lain juga menjadi bahan pertimbangan utama.
“Dan pemain-pemain yang terpilih ini adalah yang terbaik, karena saya melakukan seleksi selama seminggu dari pemain yang didapat dari scouting di EPA dan segala macam," ungkapnya.
“Dan kita melakukan seleksi bukan hanya penampilan, tapi segala aspek kita nilai. Baik dari fitness report, kemudian VO2Max, segala macam lah kita lakukan," tuturnya.
Penekanan pada VO2Max dan laporan kebugaran menunjukkan pendekatan yang digunakan tim pelatih berbasis data. Hal ini sekaligus menjawab kritik yang sempat beredar terkait dugaan subjektivitas dalam pemilihan pemain.
“Jadi tidak ada sama sekali apa namanya indikasi apa pun yang mungkin ya selama ini ada beritanya. Ya, jadi saya pastikan itu karena ketika seleksi memang inilah tim terbaik yang, pemain-pemain terbaik yang ikut seleksi saat itu di Yogyakarta.”
Kurniawan juga menegaskan 26 pemain yang dipanggil, termasuk Fardan Ary Setyawan, telah melewati proses panjang yang tidak sederhana.
Semua pemain dinilai dari berbagai parameter untuk memastikan kualitas terbaik yang bisa dibawa ke tim.
Di tengah kritik yang muncul, keputusan memainkan Fardan sebenarnya memiliki alasan taktis yang cukup jelas.
Kurniawan melihat kebutuhan tim yang mendesak untuk meningkatkan daya gedor, terutama saat menghadapi lawan dengan pertahanan rapat.
“Kemudian kenapa saya memainkan Fardan? Pertanyaan pertama Timor Leste, kita menginginkan banyak gol, tambahan gol di babak kedua dan kita punya tiga striker di tim ini: Mierza, Sean dan Fardan," jelasnya.
“Ketika Mierza keluar, maka pilihannya kita memainkan dua striker karena memang tim Timor Leste pakai lima di belakang," tambahnya.
Situasi pertandingan memang menuntut fleksibilitas strategi yang cepat dan tepat. Saat melawan Timor Leste, perubahan formasi menjadi opsi logis demi membongkar pertahanan lawan yang menumpuk pemain di lini belakang.
Hal serupa terjadi ketika menghadapi Malaysia, di mana Timnas Indonesia U-17 sebenarnya mampu mengontrol jalannya pertandingan. Namun, dominasi tersebut belum mampu dikonversi menjadi peluang matang di dalam kotak penalti.
“Sama juga lawan Malaysia, kita butuh gol karena satu striker tadi... apa di babak kedua kita kontrol game, kita menguasai, tapi agak repot untuk masuk ke penalti boks dengan tiga defender mereka, bahkan lima pemain belakang,” jelasnya
“Kenapa kita masukkan Fardan? Karena kita butuh gol, kita butuh dua orang atau lebih orang di penalti area," ungkapnya.
Masuknya Fardan menjadi bagian dari upaya menambah jumlah pemain di area berbahaya lawan. Dengan dua atau lebih striker di kotak penalti, peluang mencetak gol diharapkan bisa meningkat secara signifikan.
Meski hasil akhir belum berpihak, penjelasan Kurniawan memberi gambaran setiap keputusan memiliki dasar yang kuat.
Pendekatan berbasis data seperti VO2Max dan kebutuhan taktis di lapangan menjadi fondasi utama dalam menentukan strategi tim.
Kini, tantangan berikutnya adalah bagaimana tim mampu menerjemahkan strategi tersebut menjadi hasil nyata di pertandingan.
Evaluasi tentu diperlukan, tetapi fondasi yang dibangun menunjukkan arah yang jelas untuk perkembangan Timnas Indonesia U-17.
Editor : Nurismi