BERAU POST - Admin media sosial Putra Jaya Kabupaten Pasuruan resmi dipecat setelah insiden tendangan brutal Muhammad Hilmi ke Firman Nugraha berbuntut panjang di luar lapangan.
Keputusan manajemen ini menjadi dampak lanjutan dari peristiwa keras dalam laga Liga 4 PSSI Jawa Timur dan menyedot perhatian publik sepak bola nasional.
Insiden tersebut terjadi dalam pertandingan Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung di Stadion Gelora Bangkalan, Senin (5/1) pukul 13.00 WIB.
Laga ini merupakan bagian dari grup CC Liga 4 PSSI Jatim putaran 32 besar dengan atmosfer pertandingan yang berlangsung panas sejak awal.
Putra Jaya tampil dengan jersey kuning, sementara Perseta 1970 Tulungagung mengenakan kostum hijau.
Kedua tim sama-sama mengincar kemenangan demi menjaga peluang lolos ke fase berikutnya.
Namun jalannya pertandingan berubah drastis setelah terjadi pelanggaran keras yang terekam jelas melalui siaran langsung YouTube PSSI Jawa Timur.
Aksi itu kemudian viral dan memicu reaksi luas dari warganet serta pecinta sepak bola.
Insiden bermula ketika Firman Nugraha, pemain Perseta, berusaha merebut bola dalam situasi terbuka.
Muhammad Hilmi tiba-tiba melakukan tendangan keras yang mengarah langsung ke dada Firman secara brutal dan tanpa kompromi.
Firman Nugraha seketika ambruk di lapangan usai menerima tendangan tersebut. Wasit langsung mencabut kartu merah untuk Muhammad Hilmi yang mengenakan nomor punggung 23.
Keputusan wasit sempat memicu emosi pemain Perseta yang merasa rekan setimnya dicederai secara sengaja.
Beberapa pemain terlihat mengejar Hilmi sebelum akhirnya ditarik keluar lapangan oleh rekan setimnya untuk menghindari bentrok fisik.
Firman Nugraha tidak bisa melanjutkan pertandingan dan harus mendapatkan penanganan medis serius.
Pemain Perseta itu kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan akibat benturan di bagian dada.
Insiden tendangan horor tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan memicu gelombang komentar pedas dari warganet.
Tidak hanya pemain, klub Putra Jaya Kabupaten Pasuruan pun ikut terseret dalam pusaran kritik.
Situasi makin memanas setelah admin media sosial Putra Jaya mengunggah pernyataan pribadi di akun resmi klub.
Unggahan itu kemudian dinilai memicu kontroversi dan memperburuk citra klub di mata publik.
“Terima kasih yg sudah follow karena tendang kungfu. Banyak yg komen dgn kata-kata yang tidak baik. Bilang gak ngajarin etika lah,atau apalah, kejadian seperti itu bukan kita yg minta atau pelatih yang minta untuk mencederai lawan,” tulis akun itu.
"Sepak bola Indonesia bahkan luar negeri juga ada yang seperti itu, semua tergantung pemainnya, bukan klubnya. Saya sebagai admin mohon maaf atas kejadian tidak sportif dari pemain kami, semoga Firman (korban) segera pulih dan bisa kembali bermain, saya tetap bangga dengan klub, tapi tidak dengan kejadian tadi @perseta1970,” tulis admin media sosial klub.
Unggahan tersebut justru menuai respons negatif dari berbagai pihak, termasuk suporter dan pemerhati sepak bola.
Banyak yang menilai pernyataan itu tidak sensitif terhadap kondisi korban dan terkesan defensif.
Tekanan publik yang semakin besar akhirnya membuat manajemen Putra Jaya mengambil langkah tegas.
Admin media sosial klub resmi diberhentikan dari tugasnya sehari setelah insiden terjadi.
Manajemen kemudian merilis pernyataan resmi terkait keputusan tersebut. Pernyataan itu diunggah untuk meredam polemik dan menunjukkan sikap klub terhadap insiden yang terjadi.
“Official statement P.S. Putra Jaya Sumurwaru. Bahwa admin IG sudah kami berhentikan dan akun per tanggal 6 januari pukul 13.00 untuk sementara dikelola langsung oleh ketua harian P. S. Putrajaya sumurwaru. Atas kejadian ini kami memohon maaf sebesar-besarnya,” tulis manajemen.
Langkah memecat admin media sosial dinilai sebagai upaya klub mengambil tanggung jawab moral.
Manajemen ingin memastikan komunikasi publik klub lebih terkendali dan tidak memperkeruh suasana.
Kasus ini menunjukkan bagaimana insiden di lapangan bisa berdampak luas hingga ke ranah manajemen dan media sosial. Satu tindakan pemain dapat memicu konsekuensi berlapis yang sulit dikendalikan.
Bagi Putra Jaya, kejadian ini menjadi pelajaran penting dalam mengelola tim dan citra klub. Profesionalisme tidak hanya diuji saat pertandingan, tetapi juga dalam merespons situasi krisis.
Sementara itu, publik menanti kondisi terkini Firman Nugraha pasca insiden tersebut. Dukungan dan doa mengalir agar sang pemain segera pulih dan dapat kembali merumput.
Liga 4 PSSI Jawa Timur sendiri kembali mendapat sorotan terkait pengawasan dan penegakan disiplin pemain.
Insiden keras seperti ini menjadi pengingat pentingnya sportivitas dan keselamatan dalam sepak bola.
Peristiwa ini menegaskan sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah. Etika, empati, dan tanggung jawab bersama menjadi fondasi utama agar kompetisi tetap sehat dan bermartabat. (jpg/smi)