BERAU POST - Luca Marini akui butuh banyak waktu untuk bisa beradaptasi dengan para Engineer HRC, saat harus menggantikan sang juara dunia.
“Karena saya baru, mereka pernah bersama Marc sebelumnya, dan banyak menang, jadi situasinya berbeda dengan kedatangan saya – dengan gelar yang tidak cukup untuk menjadi pembalap nomor satu," tutur Marini, dilnasir laman Crash.
Nametelah musim debut yang melelahkan dengan hanya 14 poin, Marini membuat langkah besar selama musim keduanya di HRC, mengakhiri tahun dengan raihan 142 poin.
Jika ia tidak melewatkan tiga putaran karena cedera saat tes Suzuka 8 Hours, Marini hampir pasti akan meraih enam poin tambahan yang dibutuhkan untuk finis sebagai pebalap Honda teratas di klasemen kejuaraan dunia.
Kemajuan Marini di tahun 2025 mencerminkan peningkatan RCV, yang diklaim "57%" lebih dekat ke depan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Saya rasa saya memiliki beberapa kualitas, dan mereka mengerti bahwa mengikuti arahan dan umpan balik saya akan menjadi kuncinya," ungkap Marini.
Meskipun kualitas feedbacknya tetap sama, pembalap Italia itu merasa peningkatan kepercayaan yang diberikan oleh para insinyur HRC memainkan peran kunci dalam pengembangan motor.
“Saya rasa sekarang saya mendapatkan kepercayaan mereka. Jadi setiap kali saya berbicara, mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melakukan apa yang saya minta," kata Marini di akhir musim.
Mantan peraih podium VR46 Ducati ini menambahkan bahwa yang terpenting bukan hanya memberikan informasi akurat tentang upgrade dan perilaku motor, tetapi juga menunjukkan kepemimpinan.
“Bukan hanya umpan balik teknis, tetapi juga sisi kemanusiaannya,” ujar Marini.
“Saya pikir menciptakan atmosfer yang hebat di dalam garasi sangat penting di era MotoGP baru ini, karena kami memiliki banyak ajang dan orang-orang menjadi sangat stres," tambah Marini.
Performa Honda yang membaik juga berarti mereka telah naik kelas konsesi dari D ke C untuk tahun 2026. (smi)