BERAU POST - Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dan para pemain naturalisasi Malaysia, baru-baru ini dijatuhkan sanksi oleh FIFA.
Keputusan FIFA tersebut memicu berbagai reaksi dari masyarakat Malaysia termasuk Tunku Ismail Sultan Ibrahim, Putra Mahkota Johor sekaligus pemilik klub Johor Darul Ta’zim (JDT).
Pihaknya mempertanyakan integritas proses FIFA dan mengisyaratkan adanya tekanan eksternal.
Lewat akun resmi X, @HRHJohorII, Tunku Ismail menulis pernyataan panjang yang segera viral di jagat media sosial.
Menurutnya FAM telah mengikuti proses dan bekerja sama dengan FIFA serta Pemerintah Malaysia.
"FIFA sebelumnya sudah menyetujui, tetapi mengapa sekarang keputusannya berubah? Apakah ada pihak luar yang memengaruhi? Sanksi dijatuhkan tanpa alasan jelas, bahkan dipublikasikan sebelum proses banding selesai,” tulis sang pangeran.
Ia melanjutkan dengan nada tegas, “Siapa yang ada di New York? Saya harap FAM akan mengajukan banding sesegera mungkin. Tentu saja kami tidak takut dan tidak akan tunduk pada orang-orang yang khawatir dengan kebangkitan Harimau Malaya. Terus berjuang, terus berjuang. Berani karena kami benar.”
Pernyataan sang pangeran menjadi sorotan karena Malaysia diyakini telah mematuhi seluruh prosedur hukum untuk proses naturalisasi.
Dokumen resmi Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) menunjukkan verifikasi silsilah hingga kakek-nenek, pemeriksaan dokumen dari Argentina, Brasil, dan Spanyol, serta uji kemampuan bahasa Melayu dan kelayakan tinggal telah dipenuhi sebelum tujuh pemain tersebut mendapatkan kewarganegaraan.
Direktur Jenderal JPN, Badrul Hisham Bin Alias, menegaskan, “Seluruh prosedur hukum dan administratif telah dijalankan secara saksama. Penerbitan sertifikat kewarganegaraan dilakukan sesuai persyaratan konstitusi.”
Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) pun membeberkan alur yang sudah lama disetujui FIFA, mulai dari verifikasi keturunan, konfirmasi kewarganegaraan, penerbitan paspor Malaysia, hingga persetujuan akhir dari FIFA sendiri.
“FIFA already granted approval as per the process shown,” tulis catatan resmi FAM yang menegaskan bahwa para pemain sudah lolos uji kelayakan sebelum tampil untuk Harimau Malaya.
Langkah FIFA yang tiba-tiba itu memicu spekulasi adanya protes atau tekanan dari pihak luar. Namun, badan sepak bola dunia itu belum memberikan alasan rinci.
Ketidakjelasan inilah yang membuat Tunku Ismail menuntut transparansi dan mendorong FAM segera mengajukan banding.
Dengan reputasi JDT sebagai klub raksasa Liga Malaysia dan kiprah internasional yang solid, suara pemiliknya memberi bobot politik dan olahraga yang tak bisa diabaikan.
Bagi Malaysia, kasus ini lebih dari sekadar sengketa administratif. Tujuh pemain naturalisasi tersebut merupakan pilar penting dalam ambisi Harimau Malaya untuk menembus panggung Piala Asia dan Kualifikasi Piala Dunia.
Tanpa kejelasan, rencana jangka panjang FAM bisa terganggu dan memengaruhi persiapan kompetisi tingkat Asia.
Seruan Tunku Ismail agar “berani karena benar” menjadi simbol perlawanan terhadap apa yang dianggap keputusan sewenang-wenang.
Publik dan pengamat menilai respons cepat pemerintah serta FAM sangat krusial untuk mengamankan hak bertanding para pemain dan menjaga reputasi sepak bola Malaysia di mata dunia. (jpg/smi)
Editor : Nurismi