BERAU POST - Mercedes menjalankan strategi berisiko dalam Grand Prix Formula1 di Inggris. Hal itu diungkapkan oleh George Russel.
Dilansir dari laman Crash pada Senin (7/7), Russell menyebut bahwa keterbatasan kecepatan mobil membuat tim harus mengambil pendekatan agresif.
Dengan menggunakan ban licin sejak awal balapan, meskipun kondisi lintasan masih basah.
Russell, bersama Charles Leclerc, Isack Hadjar, Ollie Bearman, dan Gabriel Bortoleto, menjadi lima pembalap yang memilih mengganti ban ke tipe kering sebelum balapan dimulai.
Namun, strategi tersebut terbukti tidak berhasil karena lintasan Silverstone masih terlalu licin untuk ban slick.
Sepanjang balapan, Russell kembali menjadi salah satu pembalap pertama yang beralih ke ban kering pada pit stop terakhir.
Sayangnya, langkah ini kembali dianggap terlalu dini dan membuatnya kehilangan peluang untuk meraih posisi lebih baik.
Russell mengungkapkan bahwa keputusan tersebut adalah hasil dari kalkulasi 50-50 yang tidak berjalan sesuai rencana.
Pembalap berusia 27 tahun tersebut mengatakan bahwa Mercedes sempat unggul dalam kecepatan pada kondisi kering, namun hujan kembali turun, dan Virtual Safety Car (VSC) mengubah dinamika strategi mereka.
Russell menambahkan bahwa strategi konservatif bisa saja mengantarkan dirinya finis di posisi ketiga hingga kelima.
Namun, Russell merasa bahwa tanpa kecepatan mobil yang kompetitif, Mercedes memang harus mengambil risiko jika ingin meraih hasil besar. Ia menyebut keputusan yang diambil sebagai “berani tapi menyakitkan”.
Pembalap Inggris itu menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa kondisi lintasan sangat kompleks, dengan sebagian trek kering dan bagian lainnya basah.
Russell menyadari bahwa mengambil risiko adalah satu-satunya cara untuk bersaing dalam situasi saat ini, meskipun keputusan tersebut tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkan. (jpg/smi)
Editor : Nurismi